Sudah menjadi tradisi, setiap jelang ramadhan dan lebaran harga-harga mulai melejit. Kondisi ini dipersepsi umum sebagai hal yang wajar. Padahal kenaikan harga barang umum (inflasi) merupakan sesuatu yang menyesakkan perekonomian masyarakat. Jadi, ada pengkondisian yang sistemik untuk memaklumi kondisi yang abnormal sebagai kewajaran menjadi normal

Mengapa pemakluman atas kenaikan harga yang secara siklis terjadi ini perlu diluruskan? Satu hal yang pasti, kesesatan kolektif atas pemahaman perilaku harga ini dimanfaatkan untuk aksi ambil untung (profit taking) dari kaum pemodal yang menguasai sektor perdagangan dan produksi. Sementara, masyarakat menyerah dan pasrah memberikan keuntungan berlipat pada kaum bermodal.

Berjuta orang kelompok miskin dan rentan miskin bekerja keras berbulan-bulan di tanah rantau sebagai buruh migran dan menabung hasilnya yang dalam satu bulan “terkuras” untuk belanja konsumtif pada hari raya. Tidak ada yang salah dengan merayakan kebahagian, namun jika terjebak pada konsumsi berlebih perlu juga direnungkan kembali agar tergapai makna substantif dari sebuah perayaan.

Guna mencermati proses sistemik jebakan kenaikan harga, dapat dilihat dari kewajaran kenaikan harga tersebut. Salah satu komoditas yang dekat dan identik kaum bawah adalah “sego kucing”. Bagi warga Jogja dan Jawa tengah secara umum, sudah tidak asing lagi mendengar istilah “sego kucing” yang selalu tersaji di setiap angkringan. Tempat tersebut cukup istimewa bagi masyarakat umum, termasuk para pelajar dan mahasiswa, dan tentu saja menu utama “sego kucing” tidak dapat dilupakan selain wedang jahe.

Sego kucing yang terbuat dari paket segempal nasi dengan sambal tempe ataupun sambal teri, dan terkadang secuil potongan telur dadar, memiliki perilaku harga yang unik. Hasil pengamat dan riset sederhana yang dilakukan oleh penulis dibantu para mahasiswa ditemukan bahwa perilaku harga sego kucing lebih mencerminkan kenaikan harga (inflasi) secara riil dan fundamental serta tidak ada motif eksploitasi ataupun angka politis.

Secara umum, pada berbagai angkringan di sekitar kampus maupun di jalan-jalan pinggiran kota di Jogja, pada awal tahun 1990an, harga sebungkus sego kucing senilai 300 rupiah. Angka ini bertahan cukup lama, dan baru naik menyesuikan kenaikan harga sembako menjadi 500 rupiah per bungkusnya hingga tahun 2000an. Sekitar tahun 2003, harganya naik menjadi 800 rupiah dan naik lagi menjadi 1000 rupiah hingga tahun 2009an. Pada akhir tahun 2009 hingga hari ini, harga sego kucing berkisar 1.500 rupiah.

Kenaikan harga sego kucing dalam rentang waktu yang lama bersifat landai, wajar menyesuaikan kenaikan harga input (terlebih saat harga cabe membumbung), dan tidak bersifat siklis. Hal yang menyejukkan dari para pedagang angkringan maupun para suppliernya dalam menaikkan harga tidak saja didasarkan pada keterpaksaan menyesuaikan harg input, namun juga mempertimbangkan faktor sosial. Diungkapkan para pedagang angkringan, kenapa lama tidak menaikan harga karena merasa kasihan pada pelanggannya yang mayoritas sesama “wong cilik” dan para mahasiswa yang kos di Jogja. Sebuah kearifan dalam pembentukan harga jual yang tidak saja dipengaruhi faktor ekonomi dan keuangan namun juga faktor sosial yang mencerminkan ideologi keberpihakan.

Bagaimana dengan harga barang lain pada umumnya? Penguasaan jalur distribusi dan kendali pada faktor produksi lainnya, menjadikan harga barang lebih ditentukan oleh “kaum pemodal” dengan menautkan pada logika pasar dan nihil keberpihakan atas implikasi dari kenaikan harga tersebut. Terkadang juga dihubungkan dengan kenaikan BBM, psikologis kenaikan gaji pegawai negeri maupun momentum keagamaan seperti ramadhan, idul fitri, natal, dan tahun baru. Pematangan logika menaikkan harga tersebut terbantu juga karena pengkonstuksian pada opini dan berita di media masa yang dilontarkan para pemegang kendali distribusi dan bahkan para pejabat publik.

Dengan membandingkan pola dan rasionalitas dibalik pembentukan harga sego kucing dengan harga barang pada umumnya, maka akan tampak bahwa nilai inflasi yang dipublikasi dan dijadikan input kebijakan bisa saja bias alias “terlalu mahal”. Kepedulian terhadap kewajaran harga menjadi perlu dibangun karena kenaikan terlalu tinggi dan bebas nilai memiliki implikasi luas. Sebut saja, inflasi menjadi dasar pada penyesuaian (baca: menaikan) gaji PNS dan tidak menautkan langsung pada kinerja. Inflasi juga dijadikan dasar untuk menentukan suku bunga kredit, menentukan standar harga proyek, dan masih banyak lagi kebijakan publik maupun praktik bisnis yang mempertimbangkan inflasi.

Kepedulian dan sikap kritis atas kenaikan harga perlu dibangun secara masif. Tidak bisa lagi publik pasrah atas kenaikan harga berbagai barang yang rasionalitasnya diragukan. Terlebih implikasi dari kenaikan harga tersebut langsung menusuk jantung daya beli masyarakat bawah. Pola kenaikan komoditas yang merefleksikan pola alami seperti sego kucing layak dijadikan indeks pembanding atas kenaikan harga (inflasi) yang sering terpublikasi. Selamat datang Indeks Sego Kucing (ISG) alias Cat Rice Index (CRI) yang suatu saat akan bersanding dengan indeks-indeks harga lain seperti McD Index. ***

Penulis: Staf Pengajar Prodi Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiuyah Yogyakarta, peneliti Inspect Yogyakarta.

ctt: Terpublikasi di Harian Kedaulatan Rakyat